Artikel

MENGENANG KYAI MOHAMMAD THOLHAH HASAN

Mustangin *)

Dalam Curriculum Vitaenya Mohammad Tholhah Hasan lahir di Tuban, tepatnya tanggal 10 Oktober 1938 M dari keluarga sederhana yang sangat religius. Latar belakang pendidikan pesantren yang dijalaninya dan pengalaman karir organisasinya khususnya di lingkungan NU mulai dari Pengurus Ranting sampai dengan Pengurus Besar  telah membentuk Tholhah Hasan menjadi sosok Kyai yang sangat mengagumkan dan disegani banyak kalangan. Banyak hal dapat diambil pelajaran dan hikmah dari perjalanan hidup Kyai Mohammad Tholhah Hasan.

Kini Kyai Tholhah sudah tiada, Inna lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Hari Rabu Wage 29 Mei 2019 M bertepatan dengan tanggal 24 Romadhon 1440 H beliau kapundut menghadap sang Khaliq dalam usia 81 tahun. Kaget, sedih, duka cita, dan seperti tidak percaya bahwa Kyai Tholah sudah benar-benar tidak ada, meninggalkan kita untuk selama-lamanya.  Kyai Tholhah wafat dengan meninggalkan kesan dan kenangan yang sangat mendalam. Banyak warisan dan monumen yang ditinggalkan Kyai Tholhah untuk menjadi motivasi, inspirasi, dan bahkan bench-mark untuk para successor dan generasi setelahnya.

Secara fisik-jasmaniah kini Kyai Tholhah sudah tidak ada, tetapi pikiran, sikap perilaku, keteladanan, dan monumen-monumen penting yang ditinggalkan tetap menjadi kenangan mendalam yang tidak bisa dilupakan oleh para generasi setelahnya. Sekedar meminjam ungkapan dalam syair berbahasa jawa bahwa “wong ngalim iku urip najan matine” (orang ‘alim itu pada hakikatnya hidup, meskipun sudah mati). Bagi komunitas Yayasan Universitas Islam Malang atau kaum Nahdliyyin pada umumnya, bahkan umat Islam Indonesia, sosok Kyai Tholhah baik dalam pikiran atau keteladanan akan tetap ada dalam sepanjang sejarah.

Unisma: Dari NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia

Banyak sekali yang bisa disebut untuk menggambarkan kenangan yang ditinggalkan Kyai Tholhah Hasan dalam fase-fase sejarah hidupnya. Kyai Tholhah sudah menorehkan reputasi dan rekam jejak yang sangat baik dalam bidang pemikiran dan wawasan ke-Islam-an khususnya yang menyangkut tentang Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), Nahdlatul Ulama (NU), Islam Rahmatan lil alamiin dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sekedar sebagai contoh, dalam tulisan ini dipaparkan kenangan-kenangan Kyai Tholhah sebagai best practice dalam berbagai bidang kehidupan, dengan harapan dapat menjadi contoh dan teladan generasi hari ini dan akan datang. Dua bidang di antara sekian banyak kenangan yang sangat penting bagi Penulis adalah bidang pemikiran Islam dalam konteks ke-Indonesia-an dan pendidikan Islam.

Dalam karya pemikiran, Kyai Mohammad Tholhah Hasan banyak memberikan pandangan tentang pentingnya pembaruan pemikiran Islam (Tajdid al-fikr al-Islamy). Islam sebagai salah satu agama samawi harus diletakkan dalam konteks yang benar, rasional, dan proporsional. Islam bukan hanya agama yang mengatur sistem keyakinan yang sifatnya dogmatis dan doktrinal. Islam bukanlah agama yang hanya mengatur aqidah dan syari’ah, tetapi Islam juga agama yang mengatur soal-soal peradaban dan kemanusiaan. Islam harus tetap relevan sepanjang sejarah kehidupan manusia yang dapat merespon dan menjawab tantangan dinamika perubahan zaman dengan tetap menjaga reputasi agama sebagai sistem keyakinan yang unique.

Dalam pandangan Kyai Tholhah, pembaruan pemikiran dalam Islam tetap harus dilakukan agar Islam tetap compatible dengan sejarah kehidupan manusia. Islam harus inklusif terhadap dinamika perubahan peradaban manusia, tetapi Islam harus tetap menjaga kredibilitasnya sebagai agama samawi dan tidak boleh kehilangan karakter dasarnya akibat perkembangan global. Kyai Tholhah berpendapat bahwa modernisasi Islam tidak seharusnya diarahkan pada sekulerisasi dan liberalisasi seperti tradisi agama Kristen Barat dalam rangka merespon perkembangan global. Namun demikian, Islam juga jangan berhenti pada agama yang mengandalkan mistisisme sebagaimana tradisi agama Hindu dalam rangka menjaga dan mempertahankan kredibiltas dan kesakralan agama.

Prof. Dr. K.H. Mohammad Tholhah Hasan

Pandangan Kyai Tholhah Hasan tentang Islam sebagaimana tergambar dalam uraian di atas, tampak sangat jelas bahawa beliau sangat moderat dan sekaligus membedakan dengan beberapa Kyai pada zamannya. Cara pandang terhadap Islam tersebut merupakan representasi sebagian besar pandangan ulama NU yang menggunakan metode berfikir (manhajjul fikr) ahlussunnah wal jama’ah. Kyai Tholhah sebagaimana pemikiran mainstream dalam NU merupakan Kyai modernis dan moderat dalam Islam yang membaca dan memahami agama tidak sebagai ajaran yang ekskulsif, tetapi inklusif yang menempatkan pemeluk agama lain secara demokratis dan humanis. Pemeluk agama lain bukan musuh atau komunitas yang harus dibedakan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Kyai Mohammad Tholhah Hasan tidak berhenti pada tataran pemikiran. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Kyai Tholhah sudah sangat baik memberikan narasi bagaimana seharusnya orang memahami Islam secara komprehensif dan mengaktualkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosialnya. Tipikal berfikir dan karakter dasar Ahlussunnah wal Jama’ah yang tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal dapat dipraktekkan dan dicontohkan secara gamblang oleh Kyai Tholhah. Dari apa yang dinarasikan oleh Kyai Tholhah, kita bisa belajar bersikap moderat, rendah hati, dan tidak suka konflik. Karakter dan sosok Kyai tersebut, menjadi salah satu sebab penting, mengapa Kyai Tholhah bisa diterima di banyak kalangan, baik komunitas antar agama, organisasi sosial kemasyarakatan, dan pemerintah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam praktek dunia nyata, Kyai Tholhah sudah memberikan contoh bagaimana orang harus bergaul dan bisa diterima di banyak kalangan. Sekedar menunjuk contoh bagaimana Kyai Tholhah diterima dan dipercaya masyarakat lintas komunitas. Kyai Tholhah memiliki pengalaman sebagai Badan Pemerintah Harian Kabupaten Malang (BPH-1967), Menteri Agama Republik Indonesia (MENAG-1999), Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI-2007), Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI-1995), di samping jabatan-jabatan strategis lainnya dalam berbagai komunitas masyarakat. Dalam komunitas NU karir dan pengalaman Kyai Tholhah sangat lengkap, mulai dari Pengurus Ranting NU Singosari (1960), Pengurus MWC NU Singosari (1966), Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang (1969), Pengurus Wilayah NU Jawa Timur (1986), Pengurus Tanfidziyah PBNU (1990), dan Rois Syuriah PBNU (1994).

Dari banyaknya pengalaman Kyai Tholhah Hasan dapat dipahami bahwa beliau memiliki multi-talent (meminjam istilahnya Prof. Dr. Nazaruddin Umar). Kyai Tholhah bisa bergaul dengan sangat banyak kalangan, bisa diterima di banyak kelompok masyarakat, dan dipercaya di tengah-tengah pergaulan masyarakat luas. Dari banyaknya jabatan yang pernah dimiliki Kyai Tholhah, menggambarkan sebuah narasi bahwa beliau memiliki kemampuan kepemimpinan (leadership) yang sangat mumpuni. Dalam konteks kepemimpinan, sebagai orang yang berada dalam asuhan dan bimbingan beliau, Penulis merasa mendapat kesan dan kenangan yang sangat inspiring. Beliau Kyai Tholhah Hasan sangat bijaksana (wise), mengayomi banyak kalangan, pandai menghargai kolega, mumpuni dalam meng(k)ader, dan yang sangat penting beliau paling tidak menyukai konflik  dalam suatu organisasi.

Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, kenangan yang sangat substansial dan mendalam adalah pandangan Kyai Tholhah tentang pendidikan Islam. Dalam suatu rapat terbuka senat UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta, K.H. Mohammad Tholhah Hasan menyampaikan pidato yang berjudul Pendidikan Islam sebagai Upaya Sadar Penyelamatan dan Pengembangan Fithrah Manusia. Hari Sabtu 30 April 2005 M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Kyai Mohammad Tholhah Hasan sebagi apresiasi dan rekognisi atas reputasi dan prestasi beliau dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan salah satu representasi masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia yang memberikan perhatian dan pengakuan atas prestasi, komitmen, dan rekam jejak Kyai Mohammad Tholhah Hasan. Dalam banyak kesempatan Kyai Tholhah menarasikan kepada publik tentang kepeduliannya dan kecintaannya pada dunia pendidikan. Dalam kesempatan pidato pengantarnya pada acara Promosi Doktor Kyai Tholhah menegaskah lagi di depan rapat terbuka Senat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai berikut: Mungkin agak tepat kalau saya ini termasuk sebagai praktisi pendidikan, pengamat pendidikan, dan lebih dari itu adalah pecinta dunia pendidikan. Sehingga dalam omongan dengan teman-teman, saya selalu mengatakan bahwa “sisa-sia umur saya sekarang telah saya wakafkan untuk dunia pendidikan”.

Dalam Promosi tersebut , Kyai Mohammad Tholhah Hasan menyampaikan gagasan dan pandangannya tentang pendidikan Islam. Pendidikan Islam tidak terbatas pada pendidikan yang mengajarkan kajian-kajian atau topik-topik ke-Islam-an. Pendidikan Islam menyangkut semua aspek pendidikan mulai dari akar filosofisnya, tujuannya, kurikulumnya, dan perangkat-perangkat lain yang menggambarkan proses pengembangan potensi dasar manusia untuk mencapai tujuan hidupnya sebagai khalifah yang dapat berperan secara efektif dalam memakmurkan bumi.

Pendidikan merupakan instrumen penting bagi manusia untuk memenuhi hakikat dan martabat kemanusiaan sebagaimana ide dasar penciptaannya.  Hal ini berarti dapat dipahami bahwa sesungguhnya pendidikan dapat berkontribusi sangat penting untuk menjadikan manusia berperan secara efektif sebagai wakil Tuhan di bumi. Dalam perspektif Al-Qur’an pendidikan merupakan ikhtiar yang bertujuan untuk memebentuk manusia paripurna (Insan Kamil). Insan kamil digunakan untuk mendeskripsikan manusia yang dapat berkembang secara optimal sesuai dengan fitrah kemanuasiaannya. Beberapa pakar (ulama) mengelaborasi term insan kamil dalam beberapa frasa kunci sebagai berikut. Pertama, Muhammad Athiyah al-Abrasy menyatakan bahwa “the first and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”. Kedua, Syahminan Zaini menyatakan bahawa “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan terampil, berotak cerdas dan berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh” (Mukhlis, 2009). Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat  jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat

Secara khusus Kyai Tholhah Hasan berpandangan bahwa tujuan pendidikan Islam terbagi dalam dua jalur, yaitu: (1) Menyelamatkan fitrah manusia dengan segala komitmen ketauhidan dan loyalitasnya kepada Alloh SWT; (2) Mengembangkan potensi-potensi fitrah manusia (aqliyah, qolbiyah, dan jismiyah) sehingga mampu dan kompeten melakukan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, dengan segala dimensinya. Hal ini berarti menyelamatkan fithrah dan mengembangkan fithrah merupakan dua kunci utama dalam pendidikan Islam. Manusia yang selamat dan berkembang fithrahnya diyakini akan dapat berperan efektif khalifah di bumi.

Keberhasilan tugas pendidikan menyelamatkan fithrah manusia dapat diklaim dari kesejajaran dan keselarasan antara fithrah mukhallaqah manusia yang bersifat internal dan  fithrah munazzalah yang bersifat eksternal. Fithrah mukhallaqoh merujuk pada potensi dasar yang dibawa manuisa sejak lahir yang pada dasarnya baik. Setiap manusia yang lahir dalam keadaan fithrah sebagai konsekwensi kontrak teologis antara manusia dan Tuhan (QS Al-A’rof [7]:172). Sementara itu, fithrah munazzalah merujuk pada agama Islam yang menjadi instrumen utama untuk mengukur apakah fithrah mukhallqoh seseorang selamat atau sebaliknya.  Dalam hal ini pendidikan menempati peranan strategis dalam mengaktualkan dan mengembangkan fithrah mukhallaqah  manusia, agar tetap relevan dan sesuai dengan fithrah munazzalah  yaitu agama Islam.

Pada sisi pengembangan fithrah manusia, Kyai Tholhah Hasan merekomendasikan dua instrumen utama, yaitu keluarga sebagai pendidikan utama (madrasatul ula) dan lembaga pendidikan sekolah dan atau pesantren. Dalam pespektif Islam, menurut pandangan Kyai Tholhah, keluarga bukan sekedar lembaga yang memiliki fungsi sosial dan ekonmi semata. Keluarga merupakan lembaga yang sangat strategis, karena dalam keluarga terjadi proses-proses yang sangat intensif antar sesama anggota keluarga. Keluarga berperan dan berpengaruh sangat penting dalam wujud pembelajaran, pembiasaan, pembudayaan, bahkan penanaman keyakinan dan keimanan. Arah perkembangan anak dari potensi fithrahnya yang pada dasarnya baik akan sangat ditentukan oleh orang tuanya atau keluarganya (HR Muslim).

Menurut Kyai Tholhah Hasan, salah satu permasalahan yang sangat serius dalam dunia pendidikan sampai awal abad XXI adalah ketidakmampuan orang tua atau keluarga untuk menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya, baik karena faktor kapasitas ataupun karena sebagian besar waktu orang tua habis untuk aktivitas ekonomi keluarga.  Banyak orang tua atau keluarga yang menyerahkan fungsi pendidikan anak yang utama sekalipun kepada lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau pesantren. Sementara itu, pada saat yang sama masih sangat sedikit lembaga pendidikan Islam yang dapat memfasilitasi anak untuk berkembang sebagai mestinya. Kyai Tholhah Hasan memiliki obsesi dan motivasi yang sangat besar untuk mengisi ruang kosong tersebut, sehingga sebagian besar masa hidupnya Kyai Tholhah sangat concern dalam mengembangkan dunia pendidikan.

Dalam rangka mengaktualkan mimpi-mimpi besarnya pada dunia pendidikan Islam, Kyai Tholhah sudah mewariskan kenangan-kenangan dan monumen-monumen penting seperti Yayasan Universitas Islam Malang, Yayasan Sabilillah Malang, Yayasan Al Ma’arif Singbosari, dan yayasan-yasan lain yang sukses dalam asuhan dan binaan beliau. Meskipun Kyai Tholhah tidak memiliki pesantren dalam pengertian konvensional sebagaimana ditulis dalam sebuah buku yang berjudul Kyai Tanpa Pesantren (Rahardjo et al, 2007), tetapi sesungguhnya Kyai Tholhah memiliki pesantren yang lebih besar dari pesantren-pesantren lain pada umumya, yaitu pesantren madrasah, pesantren NU, dan pesantren Indonesia. Dalam pandangan Kyai Tholhah, yang diperlukan hari-hari ini dan yang akan datang adalah menggali gagasan-gagasan kreatif untuk menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang excellent, yang bermartabat dan menjadi kebanggaan umat Islam serta dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan bermutu yang dapat menyelamatkan dan sekaligus mengembangkan fithrah anak menjadi generasi unggul di kemudian hari.

Demikianlah kesan dan kenangan yang mendalam dari Penulis terhadap sosok Almaghfurllah Prof. Dr. K.H. Mohammad Tholhah Hasan, semoga semua monumen yang ditinggalkan menjadi jariyah beliau dan Penulis berharap banyak generasi setelah beliaunya mengambil pelajaran dan menjadikan contoh baik dalam berkarya, terutama dalam dunia pendidikan Islam. Penulis sangat setuju dan mengamini do’a dan harapan Kyai Tholhah yang dinyatakan pada bagian akhir naskah promosi doktornya sebagai berikut: Kita memang perlu banyak berfikir ulang, untuk menemukan model-model pendidikan Islam yang memberikan program “penyelamatan fithrah” dan sekaligus “pengembangan potensi-potensi fithrah”, sehingga dapat diwujudkan out put pendidikan Islam yang mempunyai kualitas “basthatan fi al-ilm wal jism” dan di lain sisi mempunyai kualitas qalbun salim. Wallohu a’lam bisshowab!

Bahan Bacaan

Hasan, M.T. 2005. Pendidikan Islam sebagai Upaya Sadar Penyelamatan dan Pengembangan Fitrah Manusia. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah

Mukhlis, F. 2009. Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an dan Pengembangannya dalam Menghadapi Problematika Pendidikan. (online diakses tanggal 23 Maret 2009)

Rahardjo, M., Said, M.M., Bakri, M., Irfan, M., Zainuddin, M. & Wahid, A. 2007. Kyai Tanpa Pesantren. Malang: Paramasastra Press

Widiani, Desti. 2018. Konsep Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Islam Murobby Vol. 1 No. 2

*) Dr. H. Mustangin, M.Pd adalah Sekretaris Yayasan Universitas Islam Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *