Artikel

MENYINGKAP MISTERI CINA DARI FENOMENA TAIWAN

Mustangin *)

Uthlubul ‘ilma walaw bishshiin. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Atikah Al Bashri, dari Anas bin Malik. Di kalangan pakar ilmu hadits,  ini termasuk salah satu hadits yang kontroversial, baik eksistensinya maupun kesahihannya. Beberapa pakar berpendapat bahwa hadits ini dhoif (lemah). Ada juga yang menilai hadits tersebut palsu dan bahkan sebagian yang lain menyatakan bahwa itu bukan hadits. Alasannya, karena pada jaman rasulullah SAW, bangsa Arab belum mengenal negeri Cina. Terlepas dari shahih tidaknya hadits tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa banyak kalangan ulama men-sitir dalam khutbah-khutbahnya, dengan alasan bahwa secara esensi kalimat tuntunlah ilmu sampai ke Cina adalah baik.

Mengapa Cina? Kata Cina bisa hanya sekedar kiasan untuk mengingatkan umat akan pentingnya mencari ilmu pengetahuan yang perlu diupayakan secara luas, bila perlu hingga ke negeri-negeri seberang. Secara historis ada alasan yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena Cina sebagai entitas perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW (610-632 M), Cina dipandang sebagai wilayah dengan peradaban yang amat maju. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Saat itu, masyarakat Cina sudah menguasai beragam khazanah ilmu pengetahuan dan peradaban. Dalam dunia perdagangan, Cina dikenal sebagai masyarakat yang sangat pandai. Tidak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban negeri ini, seperti ketabiban (kesehatan), kertas (industri), serta bubuk mesiu (persenjataan). Kehebatan dan tingginya peradaban Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.

FENOMENA TAIWAN DARI CINA

Taiwan merupakan salah satu fenomena Cina, bersama dengan Hongkong sebagai Asia’s World City yang merupakan Special Administrative Region dari Cina, dan Macau sebagai pusat kasino (judi) terbesar di Asia yang dijuluki The Sin City of Asia. Beberapa kalangan masih kesulitan untuk memahami Taiwan, Hong Kong, dan Macau dalam konstelasi Cina Raya. Cina merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yang beribu kota di Beijing dan menggunakan sistem ekonomi sosialis. Negara ini dikenal sebagai penganut ideologi komunis. Cina yang memiliki nama resmi negara People Republic of China (Republik Rakyat Tiongkok – RRT), nama mata uangnya Yuan. Masyarakat Taiwan, Hong Kong, dan Macau, umumnya menyebut RRT sebagai Mainland (tanah daratan).

Secara de facto Taiwan adalah negara merdeka yang berdaulat dan sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Namun, secara de jure Taiwan masih menjadi bagian dari Cina. PBB sendiri belum mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Hal ini yang menyebabkan Taiwan sebagai negara fenomenal di dunia, satu sisi masyarakatnya mengklaim sebagai negara merdeka yang berdaulat, pada saat yang bersamaan banyak negara yang tidak mengakuinya. Sesungguhnya Taiwan telah memiliki hampir semua instrumen negara merdeka, seperti bentuk negara, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, mata uang dan lain sebagainya. Taiwan yang memiliki nama resmi Republic of China (tidak ada people) berada di pulau Formosa dan beribu kota di Taipei, sistem ekonominya kapitalis dan mata uangnya NDT (National Dollar Taiwan) yang berbeda dengan negara induknya Cina. Taiwan, Hongkong dan Macau bukanlah negara yang berdaulat penuh, namun mereka memiliki paspor masing-masing. Orang Tiongkok yang ke Taiwan, Hong Kong, atau Macau wajib menggunakan paspor dan sebaliknya. Bahkan warga Tiongkok yang bekerja dan belajar di Hong Kong juga wajib menggunakan visa.

Meskipun bukan negara berdaulat penuh, Taiwan sangat produktif dalam mengembangkan berbagai merek teknologi yang sangat terkenal di dunia termasuk di Indonesia. Produk-produk teknologi tingkat tinggi (Hi-Tech)  seperti Asus, Acer, BenQ, HTC, D-Link, MSI, Trend Micro, dan Mio Tech semuanya dihasilkan oleh Taiwan. Taiwan memiliki pertumbuhan ekonomi dan tingkat industrialisasi yang tinggi. Taiwan termasuk salah satu dari Empat Macan Asia. Industri berteknologi tinggi membuat Taiwan bisa memainkan peran di perekonomian dunia. Pada awalnya, perekonomian Taiwan secara keseluruhan berorientasi pada sektor agraris  sama dengan Indonesia. Kemudian terjadi pergeseran orientasi perekonomian ke bidang industri. Adapun bentuk pengembangan industri di Taiwan didominasi oleh jasa konstruksi, perbankan, indsutri elektronika, komputer dan semikonduktor yang telah diakui kualitasnya di pasar internasional.

Keberhasilan ekonomi Taiwan memberi ruang bagi penduduknya bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis, pendidikan dan juga vokasi. Setelah kembali ke Taiwan, mereka yang banyak dipengaruhi oleh nilai kebebasan individu dan masyarakat pluralis dari luar, tidak mungkin bertahan di bawah rezim autoritarian. Oleh karena itu, secara perlahan masyarakat Taiwan hidup di bawah pemerintahan yang lebih demokratis. Negara yang memiliki populasi sekitar 23.268.087 ini memang terkenal dengan ciri khas masyarakatnya yang sangat disiplin, tertib, bersih, dan ramah. Walaupun gaya hidup masyarakat Taiwan sangat identik dengan budaya barat, di mana hampir semua anak muda di Taiwan identik dengan Amerika, namun mereka masih tetap mencintai dan mempertahankan ciri khas dan sifat ramah mereka. Hal inilah yang membuat masyarakat Taiwan berbeda dengan kebanyakan masyarakat di negara-negara barat yang cenderung lebih individualis.

Masyarakat Taiwan juga sangat mencintai negara dan semua produk dalam negerinya. Mereka lebih memilih untuk mengkonsumsi dan menggunakan produk dalam negerinya walaupun harus membayar dengan harga lebih mahal dari produk impor. Oleh karena rasa cintanya terhadap Taiwan, mereka juga selalu berusaha membuat para pendatang merasa nyaman ketika berkunjung ke negaranya agar citra negaranya tetap baik di mata para pendatang. Masyarakat Taiwan juga tipikal masyarakat yang suka mentaati peraturan di negaranya. Seperti mentaati peraturan lalu lintas, peraturan ketika hendak menyeberang jalan dan penggunaan eskalator di tempat-tempat umum. Mungkin di beberapa negara lain seperti Indonesia, kita bisa sesuka hati menyeberang dan menggunakan eskalator umum. Namun, berbeda dengan di Taiwan, masyarakat Taiwan memiliki kebiasaan untuk tidak sesuka hati menyeberang di jalanan. Oleh karena arus kendaraan yang cepat, mereka harus benar-benar memperhatikan lampu lalu lintas dan tanda penyebrangan agar bisa melintas di jalanan. Begitupun dengan eskalator yang mereka gunakan juga terbagi menjadi dua bagian. Setiap kali menggunakan eskalator umum, mereka selalu menggunakan lajur kanan dan dengan teratur berbaris di jalur tersebut. Sedangkan jalur kiri dikosongkan khusus bagi orang-orang yang ingin mendahului atau yang ingin bergegas.

BELAJAR DARI UNIVERSITAS DI TAIWAN

Taiwan termasuk salah satu negara maju di kawasan Asia, di samping Hongkong, Jepang, dan Singapura. Salah satu ciri Negara maju adalah tingginya tingkat pendidikan dan keterampilan penduduknya.

Sektor pendidikan Taiwan menduduki peringkat 4 untuk kawasan Asia setelah Korea Selatan, Singapura dan Jepang. Sedangkan posisi Indonesia berada di urutan ke-12 di bawah Vietnam. Sejarah mencatat bahwa perubahan ekonomi di Taiwan, dari negara pertanian menjadi negara industri, menyebabkan peningkatan kesadaran masyarakat Taiwan akan pentingnya pendidikan. Pemerintah menyadari bahwa sumber daya alam di Taiwan rendah sehingga pemerintah berusaha mengembangkan sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pemerintah Taiwan berusaha mengembangkan dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Praktek baik yang juga sangat penting dari sistem pendidikan Taiwan adalah adanya  pendidikan kewarganegaraan dan moral. Fakta sistem pendidikan tersebut, dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa betapapun Taiwan memiliki kemajuan dalam teknologi industri tingkat tinggi, tetapi masyarakat Taiwan tetap menjunjung tingi nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokalnya.

Apa yang kita bisa belajar dari Taiwan?  Sesungguhnya, secara statistik jika dibandingkan dengan Taiwan, Indonesia memiliki banyak kelebihan dan keunggulan terutama dalam bidang sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial budaya. Dalam perspektif ini, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi negara industri yang maju dan berbudaya. Namun demikian, harus diakui secara jujur bahwa kita bangsa Indonesia dalam banyak hal masih tertinggal jauh terutama dalam perkembangan teknologi tingkat tinggi (Hi-Tech). Kesadaran dan kejujuran akan ketertinggalan dalam perkembangan teknologi ini, dapat memotivasi kita untuk bisa sejajar atau bahkan lebih baik dari negara-negara industri maju.

Berdasarkan pengalaman kunjungan ke tiga perguruan tinggi di Kaoshiung, yaitu: National Kaohsiung University of Technology (NKUST), Cheng Shu University (CSU), dan Kaohsiung Medical University (KMU), dapat diyakini bahwa kemajuan Taiwan tidak terlepas dari kemajuan peruguruan tingginya. Dari kunjungan tersebut, kesan yang sangat kuat diperoleh bahwa semua perguruan tinggi yang dikunjungi berkontribusi sangat signifikan terhadap kemajuan Taiwan khususnya dalam bidang pengembangan Hi-Tech dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sosial budaya lokal. Banyak aspek praktek baik (best practices)  yang dapat digunakan sebagai acuan untuk diterapkan di perguruan tinggi Indonesia termasuk di Unisma  sesuai dengan kondisi objektif dan kearifan lokal yang kita miliki, baik terkait dengan tata kelola perguruan tinggi maupun pengelolaan pembelajaran dan penelitian.

Di antara banyak best practices yang telah dilaksanakan di beberapa perguruan tinggi tersebut, terdapat setidaknya tiga hal penting yang sangat potensial untuk dikembangkan di Unisma.  Pertama, Pengembangan Laboratorium Terpadu Hi-Tech. Kemajuan teknologi yang sangat cepat telah masuk di hampir semua sektor kehidupan manusia di manapun khususnya pada dunia industri. Fakta perkembangan ini menuntut adanya sumber daya yang memiliki kompetensi dan kapasitas sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Unisma sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia wajib hukumnya untuk bisa menyediakan lulusan yang dapat mengisi sel-sel dunia industri sesuai dengan bidang profesi lulusan. Menghasilkan lulusan yang baik, hanya bisa dilakukan melaui proses yang baik. Proses yang baik memerlukan dukungan infrastruktur yang baik dan memadai.

Pengembangan laboratorium terpadu yang diorientasikan untuk Fakultas atau Program Studi berbasis sain dan teknologi seperti MIPA, Teknik, Pertanian, Peternakan, Kedokteran, dan bahkan Ekonomi harus diberikan ruang ekspresi yang memadai untuk mengembangkan penelitian-penelitian dan karya-karya inovatif dalam bidang sain dan teknologi.  Karya-karya inovatif, seperti: robotik, micro-nano, chip, varian tanaman, varian hewan, obat-obat herbal, dan produk-produk akuntansi-perbankan harus menjadi pusat perhatian kita. Harus diakui, memang untuk pengembangan infrastruktur laboratorium ini sangat mahal, tetapi hal tersebut bukan alasan yang relevan untuk menunda  program ini. Oleh karena itu diperlukan komitmen dan kemauan baik yang sangat kuat dari semua komponen Universitas terutama para pemimpinnya.

Kedua, Pengembangan Mini Museum Unisma. Kemajuan suatu masyarakat bangsa dalam teknologi adalah suatu keniscayaan, tetapi menjaga marwah nilai-nilai karakter dan budaya bangsa juga kebuthan yang tak terelakkan bagi kelangsungan suatu bangsa. Banyak fakta menunjukkan bahwa meningkatnya kemajuan teknologi suatu bangsa tidak in-line dengan kemajuan peradaban bangsa tersebut. Dalam beberapa kasus, justru perkembangan teknologi telah menggerus nilai-nilai karakter dan budaya bangsa.  Tentu saja, fenomena ini menjadi mimpi buruk suatu bangsa, karena kemajuan teknologinya telah mencabut masyarakat dari nilai-nilai karakter dan budaya bangsanya.

Lembaga-lembaga pendidikan seperti Unisma ini, memiliki andil yang sangat besar dan potensial dalam upaya mempertahan nilai-nilai karakter budaya bangsa Indonesia yang maasih baik dan relevan dengan tetap menggali nilai-nilai budaya baru yang lebih baik. Hanya dengan demikian, kita akan mendapatkan kemajuan dalam bidang teknologi di atas bangunan nilai-nilai karakter dan budaya Indonesia sebagaimana diwariskan oleh para generasi pendahulu bangsa. Museum, galeri, diorama, dan semacamnya merupakan salah satu instrumen untuk menyambung mata rantai antar generasi yang dapat digunakan untuk membangun kesadaran generasi baru, bahwa apa yang diperoleh hari ini tidak terlepas sama sekali dengan generasi masa sebelumnya.

Pengembangan Mini Museum, Galeri, Diorama, atau semacamnya ini bagi Unisma merupakan hal yang penting dilakukan. Program ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran generasi hari ini, bahwa apa yang kita capai ini juga tidak lepas dari para pendiri Unisma, tokoh-tokoh masyarakat, dan para ulama khususnya di lingkungan NU. Dengan demikian, transformasi semangat dan motivasi para pendahulu bisa mewarnai generasi penerusnya baik yang menyangkut landasan filosofisnya maupun best practices yang sudah dicontohkan.

Mini Museum, Galeri, Diorama, atau semacamnya bisa memuat sejarah panjang perkembangan Unisma, para pendiri Unisma, para pimpinan Unisma dari waktu ke waktu dan lain sebagainya, baik berupa foto, tulisan, rekaman, atau juga miniatur-miniatur sejarah perkembangan Unisma dari masa ke masa. Program pengembangan ini juga bisa dilakukan oleh Program Studi, baik yang menyangkut pengelolaan Program Studi atau bahkan seperti yang terdapat di beberapa perguruan tinggi di Kaohshiung Taiwan dalam bentuk sejarah keilmuan dan profesi masing-masing Fakultas atau Program Studi di Unisma.

Ketiga, Pengembangan Budaya Bersih, Disiplin, dan Tertib. Budaya bersih, disiplin, dan tertib sesungguhnya merupakan semangat dan motivasi yang diajarkan dalam Islam. Menkonsolidasikan dan mensinkronkan pengetahuan dan pengalaman beragama kita khususnya dalam kebersihan, kedisiplinan, dan ketertiban masih menjadi persoalan di lingkungan kita. Secara literal kita sudah memiliki keasadaran yang baik akan pentingnya budaya bersih, disiplin, dan tertib. Namun demikian, dalam tataran implementasinya kita masih harus banyak belajar dari berbagai best practices di banyak tempat baik di dalam maupun di luar negeri. Sesungguhnya dalam kurun waktu terakhir ini, kita sudah berusaha dengan sangat kuat untuk menyediakan berbagai infrastruktur yang terkai dengan program ini, dengan harapan apa yang kita pahami dalam teks-teks agama bisa kita aktualkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangka mendorong akselarasi dan realisasi pengembangan budaya bersih, displin, dan tertib ini perlu berbagai inovasi untuk meningkatkan efektivitasnya. Di samping pemenuhan infrastruktur yang diperlukan, kita juga perlu upaya terus menerus dari semua komponen Universitas untuk mensukseskan kegiatan ini. Program-program edukasi dan pembiasaan hidup bersih, disiplin, dan tertib perlu terus digelorakan kepada semua pihak, khsusnya mahasiswa, baik melalui media out-door, in-door, maupun social media yang memungkinkan untuk didayagunakan. Semoga cita-cita menjadikan Unisma sebagai berkah untuk NU, Indonesia dan peradaban dunia diridhoi Alloh SWT, Amien.

*) Dr. H. Mustangin, M.Pd adalah Sekretaris Yayasan Universitas Islam Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *